Cerita Gili Trawangan dan Lombok

1873465_kotakp3kmobilOk kali ini gw akan cerita tentang pengalaman gw bulan lalu., tepatnya di pertengahan Mei . Bisa dibilang perjalanan gw kali ini gila..! Kenapa? karena kali ini gw sama sekali hanya mengandalkan 2 hari libur weekend. Itu artinya tidak ada cuti dan hanya semalam bermalam di Lombok. Ada alasan tertentu sih kenapa gw senekat ini., hihi. Dengan banyak pertimbangan akhirnya gw memilih jadwal penerbangan dari Soetta jam 5 subuh hari Sabtu. Jumat malam itu gw baru pulang kantor dan sampai kos jam 11, akhirnya gw memutuskan untuk nggak tidur alias takut molor gak kebangun karena early flight.

Soetta 04.30 WIB – 05.15 WIB

soetta

Ok., akhirnya gw memulai perjalanan dengan kondisi tubuh yang tidak maksimal. Taksik* yang sudah gw booking ternyata sudah siap sedia di depan gerbang kos sebelum jam penjemputan. Jalanan Jakarta wussshh., lancar jaya tak seperti biasanya. Sampai Bandara dengan waktu 30 menitan dan total pembayaran taksi 70rb (include tips and toll). Ternyata di bandara sudah banyak sekali orang sampai membutuhkan waktu yang lama untuk cetak tiket maupun boarding. Mungkin karena murah kali ya early flight., jadi banyak juga yang serbuu.

On the plane 05.15 WIB –  08.10 WITA

Pesawat take off pukul 05.15 sedikit delay sih, tapi it’s OK. Hal yang paling gw suka klo early flight itu pemandangan sun rise nya, tetapi nampaknya kali ini kurang beruntung karena cuaca tidak mendukung. Ya sudahlah, akhirnya gw memutuskan untuk tidur sepanjang perjalanan.. hihi. Beberapa waktu sebelum landing, gw terbangun. Dan tentunya pandangan gw tetap fokus ke pemandangan luar, kali ini cuacanya berbeda sangat ceraah khas cuaca di pagi hari. Terlihat jelas kota Mataram dari jendala, silau atap seng rumah penduduk menambah semangat untuk melihat beberapa keunikan kota ini – memang ini kebiasaan yang sering gw lakukan ketika sampai di sebuah daerah yang belum pernah dikunjungi-. Selain silauan atap seng rumah penduduk, kali ini mata gw tertuju di sebuah landasan yang tampaknya sudah tidak terpakai, dekat sekali dengan keramaian kota. Selaparang Airport, ya itu tebakan gw setelah semalam hunting tentang informasi Lombok. Selaparang Airport ini adalah bandara lama lombok yang beberapa tahun ini telah tergantikan oleh Bandara Internasional Lombok yang berada di Praya, Bandara yang menjadi kebanggaan masyarakat Lombok, i guessed, hihi. Persiapan landing pun sudah kentara diperlihatkan oleh awak kabin, dan mata gw tetep fokus pada pemandangan di luar. Beuuh., penemuan baru, ya., bs gw katakan ini penemuan baru di hidup gw. Pemandangan ini menjadi best view before landing yang pernah gw liat mengalahkan view before landing di Singapore Changi Airport yang memiliki pemandangan pencakar langitnya yang luar biasa. Sebenarnya pemandangannya sederhana, hanya pemandangan sawah yang saya lihat, tetapi ini benar2 menentramkan hati. Hijaunya sawah yang luas membentang dipadukan dengan matahari pagi, mungkin sama dengan pemandangan Ubud Bali tetapi ini lebih luasss. Brrr .., semakin exited menapaki tanah Lombok.

Bandara Internasional Lombok (BIL) 08.10 WITA – 08.45 WITA

BIL

Sampai juga di tanah Lombok dengan sedikit keterlambatan. Ekspektasi pertama mengenai Bandara nya yang digadang-gadang besar dan modern. Keluar pesawat gw berhenti untuk mengambil beberapa gambar sebentar. Hmm., besar sih dan modern juga, tapi tidak sesuai dengan ekspektasi gw yang udah terlanjur gede., hihi. Seperti apa yang telah gw cari informasinya semalam, langsung langkah kaki ini menuju pool  damri yang katanya di sebelah kanan setelah keluar dari Bandara, dan ternyata tepat sekali informasi yang saya dapatkan. Di BIL gw bertemu dengan Mamat yang sempat kenalan sesaat di Soetta., tujuan kami sama-sama Gili.

DAMRI (BIL – Senggigi) 08.45 WITA – 10.30 WITA


Damri

Sampai di pool Damri BIL, kami ditawarkan dua jenis tiket. Yang pertama tujuan Terminal Kota Rp. 15.000, yang kedua sampai Senggigi Rp. 25.000. Tentunya gw langsung milih ke Senggigi sesuai dengan informasi yang gw dapat dari hasil hunting semalam. Perjalanan ke arah Senggigi terjadi berdebatan keras dalam diri gw, antara ngantuk karena belum tidur, laper dan penasaran dengan pemandangan daerah. Akhirnya gw pilih untuk menikmati pemandangan sekitar dengan mata dan perut yang sedang demo besar-besaran., hihi. Oh iya di DAMRI itu lebih banyak ditumpangi oleh turis domestik maupun asing, hanya 2 orang yang saya lihat penampakannya seperti orang asli Lombok. Dalam DAMRI ini, kami juga mendapat kenalan dua wanita muda yang nekat berlibur ke Gili. brrr… seruuu.. meskipun perjalanan kita bisa dikatakan relatif lelet., hampir 2 jam., hmm..

Senggigi – Pelabuhan Bangsal 10.45 WITA – 12.30 WITA

100_2494

Dari informasinya sih banyak alat transportasi dari Senggigi menuju pelabuhan Bangsal – pelabuhan untuk menuju Gili Trawangan-, tetapi kali ini gw mendapat tawaran nebeng dari temen kantor gw yang kerja di cabang Lombok. Aseeekk., bisa lebih leluasa menikmati pemandangan. Pemandangan di perjalanan ini semakin membuat gw kagum denga Indonesia terutama Lombok, kereen!!. Kami menyempatkan berhenti di satu spot untuk mengambil beberapa gambar dan sedikit menikmati indahnya pemandangan laut dengan tebing-tebing yang indah. OK., perjalanan ini memakan waktu 30-45 menit untuk sampai di Bangsal. Tetapi kelompok kami kembali berhenti untuk mencari warung makan untuk brunch (breakfast and lunch..haha)

Pelabuhan Bangsal – Gili Trawangan

100_2516

Setelah makan, rombongan menuju Pelabuhan Bangsal. Pelabuhan yang sederhana dan terkesan tidak terawat dengan baik untuk ukuran gerbang ke tempat wisata internasional. Setibanya disana, gw langsung menuju ke tempat pembelian tiket, kala itu kami diberikan tiket berwarna merah dengan harga 10rb per orang untuk menyebrang ke Gili Trawangan. Sedangkan kalau mau ke Gili Air 8rb dan Gili Meno 9rb. Tarif sewa per boat juga bisa untuk Gili Air 2oorb, Gili Meno 225rb sedangkan Gili Trawangan 250rb. Cukup murah menurut gw untuk para backpackers.

Nampaknya kelompok kami tidak beruntung karena terlambat sedikit waktu dengan pembeli sebelumnya karena kami adalah pembeli tiket merah pertama untuk perahu berikutnya. Ini berarti kami harus menunggu penumpang tiket merah lainnya untuk memenuhi kuota. Akhirnya gw memilih duduk di bawah pohon sembari melihat lingkungan sekitar, banyak bule yang ingin menyebrang ke Gili Trawangan tapi tragisnya gw melihat perlakuan tidak baik dilihatkan oleh warga sekitar.

Ada dua kejadian buruk yang gw liat selama menunggu di pelabuhan bangsal ini. Pertama bule perempuan yang kira-kira berumur 20-22 tahun, bule itu selalu diikuti beberapa warga lokal untuk ditawarkan banyak hal seperti pembelian tiket dan lain-lain. Entah kenapa warga lokal itu tiba-tiba meminta uang lebih tepatnya malak uang dengan sangat kasar. Tapi saya cukup salut sama bule itu karena dia tetap cuek tak mau memberikan uang sepeserpun meskipun si “preman” itu sampai ngomong kasar 5cm dihadapan mukanya. Perlakuan kedua yang cukup buruk adalah bule pria bersama istri dan kedua anak perempuannya yang masih balita dan bayi yang baru saja menyebrang dari Gili Trawangan membawa banyak barang. Seketika banyak kuli yang mengarah ke mereka, nampaknya penawaran harga terlalu mahal dan negosiasi terlihat tak wajar alias “preman-preman” itu memaksa dengan nada yang cukup kasar untuk melakukan persetujuan harga. Bahkan yang terlihat miris adalah sang ayah menyuruh ibu dan kedua anaknya menghindar ketika melakukan proses negosiasi. Akhirnya bule itu tidak menyetujui harga dan memilih mengangkat barang yang cukup banyak itu dan tentunya pada “preman” semakin kencang memakinya.

Cukup miris melihatnya, memang gw tidak cukup mempunyai keberanian untuk membela mereka karena nampaknya akan semakin menambah masalah. Kejadian ini menurut gw adalah penghambat lajunya pariwisata negara kita dibandingkan negara tetangga yang lebih ramah terhadap wisatawan asingnya. Yang lebih tragisnya sebenarnya disana ada petugas pengamanan yang terkesan cuek dengan kejadian tadi, bahkan gw lihat antara petugas dan “preman” terlihat sangat akrab ketika berbincang di samping gedung pelabuhan. Semoga kedepannya hal-hal seperti ini dapat hilang di bumi pariwisata negara kita. Amiin

100_2521

Penyebrangan dari Bangsal menuju Gili Trawangan hanya memakan waktu 30 menit dengan perahu yang dipenuhi oleh manusia dan barang-barang yang sebagian besar merupakan barang-barang kehidupan sehari-hari yang akan dijual di Gili Trawangan.

Gili Trawangan 14.30 – 15.00 WITA

100_2540

Gili Trawangaaaaaaaann.., beuhh., akhirnya sampai juga. Kesan ketika sampai di Gili Trawangan adalah pantainya yang relatif bersih, pasir putih, air laut yang menawan dan tentunya lingkungannya yang sangat unik. Tidak ada kendaraan bermesin yang ada hanyalah sepeda dan kendaraan yang dibawa oleh kuda. Di sekitar Pelabuhan Gili Trawangan terdapat banyak restoran dan guest house yang dipenuhi oleh wisatawan asing, bahkan sangat jarang gw melihat wisatawan lokal. Gw sangat tertarik dengan lingkungannya, beda., sangat beda. Kalau pantai Gili Trawangan bagus sih tapi belum menjadi yang terbagus yang pernah gw lihat., masih ada pantai di tanah Maluku dan beberapa pantai di Bangka yang tak kalah kerennya.

Langsung gw menuju guest house yang telah dipesan sebelumnya, sholat dan langsung kami rombongan keluar mencari penyewaan perahu untuk melakukan kegiatan snorkeling. Kalau untuk beramai-ramai kocek penyewaan perahu beserta peralatan snorkeling dan guide ini masih masuk kocek lah, guest house nya pun begitu cocok untuk kantong backpacker.

Gili Trawangan – Gili Air 15.00 – 19.00 WITA

to be continued …

Artikel lainnya :

 

3 thoughts on “Cerita Gili Trawangan dan Lombok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s