Perpustakaan dan Perjalanan Hidup

Bila anda sering berkunjung ke perpustakaan pasti mengenal penomoran yang terdapat pada setiap rak Nomor yang melekat pada punggung buku gunanya untuk memudahkan pengunjung mencari buku. Penomoran itu lazim dikenal sebagai system persepuluhan Dewey (Dewey Decimal Classification), karya pustakawan Amerika Serikat, Melville Louis Kossuth Dewey (1851-1931).

Namun tahukah anda, dari penomoran 000 sampai 900 itu sebenarnya tersirat makna siklus hidup manusia, dari lahir sampai meninggal? Pemahaman alur kehidupan tersebut juga akan berguna untuk mengingat urutan dalam system Dewey.
Angka 000 (umum) : melambangkan bahwa manusia lahir dalam keadaan tidak tahu apapun dari tidak mengenal siapa pun. Oleh sebab itu, bayi yang baru lahir pasti menangis yang melambangkan perpindahan dari alam rahim ke dalam alam dunia.
Angka 100 (Filsafat) : diibaratkan diibaratkan anak usia balita, dia mulai perkenalan dengan seluruh anggota keluarga. Pada taraf pemikiran yang masih sederhana dia sudah mulai tahu panasnya api, dinginnya es, sejuknya AC, dan seterusnya.
Angka 200 (Agama) : pada saat sang anak mulai berfikir, kepadanya tidak lupa diperkenalkan adanya Tuhan. Sering kali kita saksiskan, orang tua membawa si kecil ke tempat-tempat ibadah, seperti : masjid, gereja, vihara, candi, kuil, dsb.
Angka 300 (Ilmu Sosial) : orang tua berusaha agar sang anak bisa kenalan dengan kawan sebayanya. Maka walau masih balita, anak sudah mulai memasuki pra-sekolah, seperti playgroup dan sejenisnya. Diharapkan sang anak memperoleh pengalaman bergaul dengan masyarakat dan memiliki kepekaan social terhadap lingkungan.
Angka 400 (Bahasa) : pada saat yang sama, seiring dengan perkembangan psikologis dan fisik, kemampuan bahasa sebagai modal pergulan juga berjalan seimbang. Bahasa digunakan sebagai alat komunikasi dengan lingkungan, terutama bahasa ibu. Sosialisasi dan adaptasi dengan lingkungan akan lebih optimal dan intensif.
Angka 500 (Ilmu Murni) : semenjak usia sekolah, bekal kehidupan ke depan sudah dimulai diberikan kepada si buah hati. Dia mulai berkenalan dengna ilmu-ilmu pengetahuan “murni”, seperti : matematika, bahasa, ilmu alam, dsb.
Angka 600 (Ilmu Terapan) : beranjak remaja, bukan sekedar ilmu-ilmu murni saja, melainkan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.
Angka 700 (Kesenian) : setelah memiliki ilmu, ada pula yang berminat terhadap keindahan. Kemampuan rasa lebih tajam, dominan, atau terdapat keseimbangan antara akal dengan rasa, yakni antara kemampuan sains teknologi dengan cita rasa seni, seperti gemar melukis, bermain music, fotografi, dan sejenisnya.
Angka 800 (Kesusasteraan) : bukan hanya seni saja, ada juga yang berminat di dunia kesusasteraan. Tengok saja sastrawan terkenal serperti Taufik Ismail. Ketika dia membaca hasil karya sastanya, atau orang lain membaca puisinya, sulit dipercaya dia adalah seorang dokter hewan.
Angka 900 (Biografi) : akhir dari siklus perjalanan hidup manusia, seperti kata pepatah “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”, demikian pula dalam siklus kehidupan kita. Perilaku yang baik meninggalkan nama harum, perilaku yang beruk membuahkan nama buruk. [Mukmin Suprayogi di Jakarta]

my note is : artikel ini diambil dari Majalah Intisari edisi Januari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s