Perpustakaan Nasional Merdeka Selatan

Perpustakaan. Ya., kata perpustakaan selama beberapa tahun belakangan ini begitu santer dan ajeg di telinga saya. Jakarta. Ya, kota Jakarta juga merupakan tempat tinggal saya beberapa tahun belakangan ini. Meskipun perpustakaan dan Jakarta begitu erat dengan saya. Tapi tempat yang begitu kuat mewakili kedua kata itu sangat jarang saya kunjungi, bahkan hanya sekali saya kunjungi, itupun bukan atasnama pribadi, tapi atas nama organisasi dan entah beberapa tahun yang lalu.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Ya, tempat ini yang menurut saya benar-benar mewakili kedua kata itu, Perpustakaan dan Jakarta. Perpustakaan Nasional RI atau sering saya sebut dengan kata pusnas. Pusnas mempunyai 2 kantor utama di ibukota negara Indonesia. Kantor utama terletak di Salemba yang lainnya terletak di Jalan Merdeka Selatan atau lebih tepatnya di depan Monas.

Pusnas Salemba lah yang pernah saya kunjungi beberapa tahun lalu, itupun atasnama organisasi. Jujur, ketika beberapa tahun yang lalu saya mendatangi Pusnas Salemba tidak ada yang spesial ata anak remaja sekarang sering menyebutnya “WOOWW”. Biasa, hanya ukurannya saja yang lebih besar dari perpustakaan pada umumnya. Itu dulu…, semoga sekarang banyak perubahan yang bisa memenuhi standart ekspetasi saya akan perpustakaan Nasional. Amiiin.

Perpustakaan Nasional Merdeka Selatan atau lebih dikenal dengan nama Pusnas Marsela. Kali ini saya harus bilang “WOW”.,. ukuran memang tidak besar, modern pun tidak begitu. Tapi arsitektur klasik yang disajikan perlu acungan jempol. Dari luar, gedung ini memang sama sekali tak terlihat sebagai perpustakaan, karena gedung ini relatif tua berarsitektur seperti bangunan-bangunan zaman Belanda (mungkin). Melihat bangunan yang unik ini dari luat, saya menggelora untuk segera masuk melihat isi dari pusnas Marsela ini. Tapi sebelum masuk, saya tertarik untuk sejenak melihat maket gedung Perpustakaan Nasional masa depan. Di maket itu terlihat bagaimana rencana pihak Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk mengembangkan bangunan perpustakaan menjadi lebih representatif untuk pengguna. Terlihat jelas maket gedung menjulang tinggi dan bertema modern. Di maket itu juga terlihat bagaimana gedung lama yang memiliki keunikan dan nilai sejarah ini dipadukan dengan konsep modern. Seandainya ini bakal benar-benar terealisasi. Saya secara pribadi salut pada pemerintah RI yang sudah mulai melek atas kebutuhan informasi masyarakatnya melalui Perpustakaan mengikuti jejak negara-negara maju bahkan negara berkembang lainnya.

Kembali ke Pusnas Marsela.., setelah saya puas melihat seluk beluk maket, akhirnya saya masuk melalui pintu paling kanan dari tiga pintu besar karena kedua pintu lainnya tertutup. Gerbang elektronik atau mungkin sering disebut dengan security gate menghiasi pintu besar itu. Selanjutnya saya menuju petugas layanan sirkulasi perpustakaan untuk menanyakan bagaimana prosedur penggunaan layanan perpustakaan. Nampaknya saya harus meninggalkan kartu identitas atau KTP sebagai jaminan untuk kunci loker tas. Buku tamu juga saya tulis yang berisikan nama, alamat dan nomer telepon. Nampaknya tidak setiap pengunjung mengisi buku induk ini terlihat dari jumlah pengunjung di buku induk ini tidak sebanyak pengunjung yang ada di loby (belum lagi yang ada di dalam).

Mengenai arsitektur ruangan yang ada di dalam perpustakaan, kali ini saya harus bilang WOOWW. Besar ? tidak. Modern? Tidak juga. Tapi entah mengapa design klasik yang disajikan benar-benar membuat saya kagum dan sejenak berkata “ini yang namanya real library”. Design klasik ini memang juga bukan merupakan huge design idea tapi menurut saya semua penyajiannya PAS.

Dibelakang konter layanan sirkulasi terdapat beberapa kursi sofa yang nyaman dan ditambah kenyamanannya dengan koleksi majalah yang sangat lengkap. Majalah dalam negeri maupun luar negeri disajikan lengkap melalui display yang menempel di dinding-dinding sebelah kursi sofa itu. Diantara kursi sofa itu terdapat empat ruang koleksi yang berlantai kayu parquet beserta tangga berdesign custom yang menghubungkan ruang satu dengan ruang sebelahnya maupun ruang di lantai atas. Rak buku juga custom design, bahkan area bawah tangga dimanfaatkan untuk rak buku juga, awesome

Lebih detil, ada hal yang cukup unik dan jarang saya temukan di perpustakaan lain di Indonesia. Nomor panggil di setiap buku bukan hanya disajikan dengan tulisan hitam dan latar belakang kertas putih melainkan disajikan dengan kertas berwarna warni yang menggambarkan setiap nomor yang ada pada nomor panggil buku tersebut. Mari kita sedikit membahas kegunaannya, jadi apabila bukunya memiliki subyek yang sama alias letak mereka saling berdekatan, lebih identik pula warna kertasnya. Ini dapat memudahkan pustakawan untuk melakukan kegiatan shelving atau kegiatan peletakan kembali buku pada tempat yang semestinya. Jikalau kesalahan dalam peletakan dapat diminimumkan, maka temu balik informasi buku dapat optimal.

Ah,.. terlampau serius nampaknya saya membahasnya, sekarang kita balik lagi ke design klasik yang telah membuat saya “jatuh cinta” dengan perpustakaan ini. Di lantai satu ini juga terdapat ruang koleksi yang relatif besar dari keempat ruangan lainnya. Hmm., kali ini saya belum bisa menyampaikan detil ruangan karena pada saat saya mengunjungi perpustakaan ini saya belum sempat mengunjungi ruangan ini. Untuk memasuki ruangan ini harus melewati 2 tangga berbahan kayu dan berlantai parquet ini yang dihiasi pula dengan indahnya lampu klasik diantaranya.

Menuju ke lantai dua, memang design tak terlampau jauh dari ruang koleksi di lantai satu. Dari tangga utama menuju lantai dua ini langsung disajikan dengan koleksi-koleksi referensi yang cukup menarik, apalagi dengan bentuk rak yang cukup unik, berbentuk oval. Diantara rak oval itu terdapat banyak meja dan kursi baca, adapula PC untuk pengguna. Dari ruang koleksi referensi itu terkoneksi dengan ruang-ruang lainnya secara abstrak dan ruangan itu juga terkoneksi dengan ruangan koleksi yang berada di lantai satu. Di lantai dus terdapat beberapa meja dan kursi baca yang memang diatur di sudut-sudut ruangan. Tebakan saya meja dan kursi baca itu memang diperuntukan bagi pengguna yang menginginkan keadaan sepi. Dan salah satu pengguna yang sedang menginginkan keadaan ekstra tenang itu adalah saya yang pada hari Sabtu, 13 Oktober 2012 menggunakan layanan Perpustakaan Nasional Merdeka Selatan Jakarta ini.

my note is : Setengah dari tulisan ini saya tulis di salah satu sudut di lantai dua Perpustakaan Nasional Merdeka Selatan ini.

Artikel lainnya :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s