Sarjana Ilmu Perpustakaan: three young library science graduates who inspired me..

Saya adalah seorang lulusan Ilmu Perpustakaan. Meskipun masih sarjana muda dari sebuah universitas di kota Solo, saya juga sempat merasakan perkuliahan untuk mencapai Sarjana Ilmu Perpustakaan di Universitas ternama di Semarang. Tetapi perkuliahan untuk mencapai sarjana pupus setelah saya diterima di salah satu lembaga negara, dan itu karena Ilmu Perpustakaan juga. Alhamdulillah..,

Ilmu Perpustakaan, ya ilmu ini sangat jarang sekali didengar di telinga kita. Bahkan bagi saya, adanya ilmu perpustakaan saya dengar pertama kali itu ketika pendaftaran SPMB., dan sangat tidak disangka jodoh saya disini alias diterimanya di jurusan ini. Bisa juga ini dikatakan dengan “kecelakaan”.., haha. Tentunya karena saya tidak tahu apa itu ilmu perpustakaan, saya berasal dari jurusan Ilmu Alam ketika SMA, dan saya cenderung tidak menyukai membaca (dulu). Dikarenakan “kecelakaan”, tahun pertama dan kedua saya masih setengah hati menjalankan perkuliahan.Tapi mulai dari tahun ketiga sampai sekarang saya mulai menambahkan proporsi hati saya untuk Ilmu ini. Faktor pertama karena saya mulai menyadari bahwa Ilmu ini sangat penting untuk dikembangkan di Indonesia sebagai negara berkembang yangmana dapat meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia dan berujung pada kesadaran masyarakat Indonesia akan informasi sebagai investasi vital bagi pengembangan diri mereka. Hal ini tak dapat disepelekan, seperti yang telah diimplementasikan oleh negara-negara maju. Tapi di negara kita Indonesia, masih jauh dari kata peduli. Dan itu yang menjadi fokus perjuangan kita para sarjana Ilmu Perpustakaan…!!!!

Faktor lain yang menambahkan kecintaan saya akan ilmu ini adalah kisah kisah inspirasional dari lulusan Sarjana Ilmu Perpustakaan yang telah “sukses” dalam penerapan Ilmu ini (sukses yang saya maksud disini, tidak berkaitan dengan materi). Selain dosen-dosen saya, penulis buku teks semasa kuliah dan tokoh Ilmu Perpustakaan, ada tiga tokoh muda yang menjadi motivasi  utama bagi saya. Kenapa? yang pertama jelas karena mereka masih muda, kedua mereka sangat menginspirasi saya ketiga saya ingin menjadi seperti mereka yang telah melakukan sesuatu untuk negeri ini. Siapa mereka??

  1. Hendro Wicaksono

    Sarjana Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia. Pak Hendro Wicaksono, ya begitulah saya memanggil beliau ketika beberapa saat yang lalu saya berkunjung ke Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Mengenal pak Hendro pertama kali tentunya tak terlepas dari aplikasi yang dikembangkan olehnya, SLIMS (Senayan Library Management System). Aplikasi ini saya kenal melalui mata kuliah Automasi Perpustakaan, aplikasi yang dijelaskan dengan porsi yang paling besar pada saat itu. Saya sangat tertarik dengan aplikasi ini., kenapa? yang utama ini adalah open source software. Tentunya ini adalah kontribusi besar dalam pengembangan perpustakaan sampai ke pelosok Indonesia sekalipun. Dengan kontribusi besar dari SLIMS ini sendiri membuat saya penasaran akan orang-orang yang berperan penting di belakangnya. Pak Hendro ini salah satu yang berperan penting dalam pembentukan aplikasi ini. Pemikiran awal saya, lulusan IT lah yang memegang peranan penting dalam pengembangan aplikasi ini tetapi ternyata beliau adalah lulusan Jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia. Hal ini menjadikan rasa kagum, bangga sebagai mahasiswa Ilmu Perpustakaan sekaligus menjadi motivasi seorang mahasiswa “kecelakaan” di ilmu ini., haha. Pak Hendro memang sering mengisi acara di komunitas SLIMS Jogja pada saat saya masih kuliah dulu, tapi selalu saja saya berhalangan datang ketika beliau menjadi pembicaranya. Ketika beliau mulai mengunjungi Komunitas SLIMS Solo, saya sudah beralih ke kota seberang, Semarang.., Padahal keinginan saya begitu kuat untuk bertemu meraih ilmu dari beliau dengan rasa kagum saya tetapi jodohnya baru tahun 2012 ketika SLIMS telah mencapai Meranti dan saya sudah bukan mahasiswa lagi, itupun hanya beberapa saat. Tapi saya puas bertemu dengan salah satu kontributor motivasi saya berkecimpung dengan ilmu ini. Terimakasih pak Hendro…
  2. Djembar Lembasono

    Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Padjajaran Bandung. Kang Djembar!! Ya., saya sering memanggil Djembar Lembasono sebagai salah satu tim pengembang utama aplikasi Ganesha Digital Library (GDL) dengan sebutan itu. GDL pertama kali saya kenal juga melalui mata kuliah Automasi Perpustakaan, tetapi memang porsi pengenalan tidak terlalu besar karena memang jelas mata kuliah ini lebih membahas mengenai aplikasi “automasi perpustakaan” bukan aplikasi “perpustakaan digital” . GDL lebih saya kenal ketika semester 6 saya melakukan kegiatan magang di salah satu perpustakaan univeristas negeri di Jogja. GDL juga merupakan open source software tetapi strenght aplikasi ini berbeda dengan SLIMS saat itu. SLIMS memiliki strenght di bagian operasional sehari-hari perpustakaan atau sering disebut automasi perpustakaan, sedangkan GDL memiliki strenght di perpustakaan digital sebagai aplikasi penyimpan koleksi digital. Saking tertariknya saya dengan library open source software, GDL inilah yang saya ambil pembahasannya dalam tugas akhir saya. Dengan sendirinya saya jadi mengetahui seluk beluk asal GDL ini dan salah satunya nama “Djembar Lembasono” terpampar jelas dalam web kmrg. Tak disangka hari kedua saya masuk kerja di kantor saya sekarang tepatnya setahun dua bulan yang lalu, saya bertemu dengan sosok yang membantu motivasi mahasiswa kecelakaan ini menjadi lebih baik. Ternyata beliau adalah rekan kerja yang sangat dekat bagi satuan kerja saya sekarang. Itulah sebabnya saya memanggil beliau dengan sebutan “kang’. Hihi
  3. Aisy Ilfiyah

    Sarjana Ilmu Informasi dan Perpustakaan Universitas Airlangga Surabaya. Memang saya tau dengan sosok ini setelah saya sudah bekerja alias bukan sebagai mahasiswa lagi. Tapi kisah dari beliau sangat saya kagumi dan menjadi motivasi besar bagi saya, mungkin dengan tujuan yang berbeda., bukan lagi sebagai “mahasiswa kecelakaan” hihi. Awalnya saya mengetahui sosok Aisy Ilfiyah ini melalui buku favorit saya yaitu Indonesia Mengajar. Saya sangat salut dengan Bapak Anies Baswedan atas ide mengembangkan yayasan ini. Selain pak Anies, tidak kalah salut dan kagum saya dengan para Pengajar Muda yang telah memberikan sesuatu yang riil terhadap bangsanya. Salut beribu salut terhadap para pengajar muda ini juga karena mereka mau bekerja sebagai guru di pelosok sementara mereka mempunyai prestasi yang luar biasa. Dan ketika saya membaca profil para pengajar muda via buku ataupun blog selalu membuat saya geleng-geleng dengan prestasi mereka yang wow maupun mereka merupakan lulusan dari universitas-universitas terkemuka dan dari jurusan yang “ampuh” juga. Saat saya membaca profil pengajar muda yang ditempatkan di Maluku Utara sekilas saya membaca “Ilmu Informasi dan Perpustakaan”, mata saya membalik pada kalimat itu untuk memastikan. Ternyata benar Aisy Ilfiyah merupakan lulusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan UNAIR Surabaya. Ketika membaca itu jujur saja membuat saya kagum terhadap sosok ini, seorang lulusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi yang dapat berperan serta dan telah menunjukan bahwa kita ada. Saya semakin fokus dengan sosok pengajar muda yang satu ini (kata remaja sekarang kepo), kekepoan saya dimulai dari blog IM mbak Aisy ini. Tulisannya yang berjudul “Teras Baca dan Ruang Pintar Panamboang : Say No to Information Poverty” membuat saya semakin kagum dengan concernnya terhadap minat baca masyarakat dan tindakan riilnya (kalah telak saya., haha). Kekepoan saya berlanjut pada akun facebooknya karena terpampang logo link facebooknya pada profil pengajar muda di website IM. Dan lagi lagi dia membuat saya iri (dalam arti positif), karena tempat kerjanya adalah Metr* TV, huaaaa.. itu lembaga yang sangat ingin kujadikan sebagai tempat kerja dan juga merupakan motivasi mahasiswa kecelakaan ini. Lagi dan lagi, mbak Aisy ini membuat saya iri dengan pekerjaannya yang berhubungan langsung dengan idola saya Andy F. Noya yang juga merupakan duta perpustakaan yang mengembangkan minat baca masyarakat Indonesia. Dan rasa iri saya terhadap beliau ini saya jadikan motivasi besar saya.

Ketiga sosok ini sangat menginspirasi saya dengan kontribusi riil mereka yang secara tidak langsung dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan perpustakaan. Saat ini kisah mereka bukan hanya menjadi motivasi bagi si “mahasiswa kecelakaan” tetapi motivasi bagi hidup saya kedepannya. Saya sama sekali tidak menyesal berkecimpung dengan ilmu ini, entah mungkin kedepan saya tidak bersinggungan lagi dengan ilmu ini tetapi satu hal yang menjadi tugas saya sebagai Warga Negara Indonesia dan khususnya sebagai Alumni Ilmu Perpustakaan adalah meningkatkan kesadaran masyarakat kita yang sangat kurang ini akan kegiatan “Membaca”.

Artikel lainnya :

8 thoughts on “Sarjana Ilmu Perpustakaan: three young library science graduates who inspired me..”

  1. Tidak ada yang namanya ‘mahasiswa kecelakaan’🙂
    Semua sudah ada jalannya, yang penting kita berkarya.
    Semangat!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s