Cerita Palangkaraya

Tjilik Riwut Airport., ya., di tanah landasan bandara itulah sejarah saya menginjak tanah Borneo Indonesia semasa hidup saya untuk pertama kalinya. Bulan Oktober tepatnya, tanggal 29 tahun 2011. Pemandangan sebelum landing, terlihat dari jendela pesawat begitu indahnya hutan  mengelilingi kota Palangkaraya itu dihiasi oleh panjang sungai coklat yang menggaris bagian dari hutan hijau nan indah itu, entah sungai apa itu namanya.

Pikiran ini dipenuhi dengan pertanyaan Bagaimanakah tata kota Palangkaraya ini yang katanya sebagai kandidat kuat pengganti Jakarta. Tata kotanya pun telah dipersiapkan oleh Presiden pertama Indonesia, Bapak Soekarno. Pesawat pun landing dengan halus (relatif). Rasanya setelah menginjak Borneo itu sebenarnya tidak ada hal spesial ketika itu., tapi mengikuti langkah yang terus bertambah ke arah gedung Bandara dengan ornamen khas Kalimantan terasalah sesuatu hal yang berbeda kurasakan, hal yang baru.., BORNEO namanya…!!

Langkah semakin menjauh ke arah bangunan bandara, hmm.. bandara ini bukanlah sebuah gedung bandara yang megah tapi yang membuat saya kagum adalah ornamen kalimantan yang begitu khas menutupi dinding-dinding gedung.

Meninggalkan bandara, pemandangan jalan menuju kota dihiasi oleh beberapa rumah kecil yang menemani luasnya lahan kosong. Terlihat jelas perencanaan tata kota ibukota negara dari lebar jalan bandara ke kota, memang tak terlalu lebar tapi kalaupun dibuat lebar, lahannya masih sangat memungkinkan. Dari segi penataan jalanpun sudah diatur sedemikian rupa (berbentuk sarang laba-laba) agar kelak dapat dikembangkan sebagai ibukota.

Seperti Jakarta, Palangkaraya juga memiliki bundaran-bundaran yang dapat digunakan sebagai pusat kota. Bundaran besar namanya, seperti bundaran Hotel Indonesia yang ada di Jakarta. Lebih luas dari bundaran HI, mungkin seluas lapangan simpang lima yang ada di kota Semarang. Seperti kota-kota lain, bundaran besar Palangkaraya juga dikelilingi gedung-gedung utama antara lain Rumah Dinas Gubernur Kateng, Gedung DPRD, Mall PALMA dan gedung utama lainnya.

Bersama bundaran besar, Palangkaraya memiliki bundaran kecil yang terjaring dengan jalanan sehingga berbentuk seperti jaring laba laba. Ya, memang ini sudah benar-benar diatur oleh Bapak Presiden pertama kita untuk menyiapkan Palangkaraya sebagai ibukota masa depan yang ideal. Tapi sekarang nampaknya belum ada pertanda untuk memindahkan Ibukota dari Jakarta ke Palangkaraya. Memang semua ini butuh proses yang sangat panjang jikalau akan benar-benar dipindah.

Okelah, mari kita bicarakan hal lain mengenai Palangkaraya. Seperti yang telah saya lihat sebelum landing dari jendela pesawat, Palangkaraya merupakan titik keramaian yang kecil dan dikelilingi oleh hutan diantaranya. Hal ini diperkuat oleh pernyataan senior kerja saya di palangkaraya

“Memang mas, disini klo saya naik motor atau mobil dari ujung sampai ujung kota yang lain paling menghabiskan 10 sampai 15 menit”, kata ibu senior,

“Kalau di Jakarta, 15 menit itu mah belum dapat 1 km bu.., Haha” saut patner saya dari Jakarta.

Memang apa yang disampaikan benar adanya, jalanan begitu lenggang. Terjadi antri beberapa menit karena sedang ada acara di bundaran besar yang diisi oleh artis ibukota itupun mereka katakan sebagai macet. Dalam hati yang saya hanya bisa berkata “Jakarta oh Jakarta.., ” haha

Sungai yang saya tadinya saya tak tau namanya itupun, akhirnya saya tau setelah dijelaskan oleh guide dadakan teman sekantor yang penempatan di Palangkaraya. Sungai Kahayan namanya…!! Sungai Kahayan ini benar benar lebar dan perahu perahu besar pun menghiasinya. Banyak juga aktivitas warga di pinggir sungai itu, aktivitas bisnis sepertinya. Tapi saya kurang tau detail apa yang mereka lakukan. Ini pemandangan benar-benar eksotis. Pengen banget turun ke pinggir sungai melihat langsung aktivitas mereka sembari berbincang-bincang bersama masyarakt dan ngambil banyak foto. Tapiiiii, karena tujuan saya adalah kerjaan bukan wisata jadi ya gagal semua keinginannya.

Hal-hal lain mengenai Kota Palangkaraya

Penerbangan ke Palangkaraya dari Jakarta dapat melalui maskapai Garuda Indonesia, Sriwijaya dan Lion air dengan waktu penerbangan bervariasi.

Hotel? Hotel di Palangkaraya cukup memiliki banyak pilihan menurut saya dan memiliki profesionalitas layanan yang cukup baik.

Jumlah pom bensin yang relatif sedikit, tidak sampai 5 tempat. Setiap pom bensin yang saya lewati selalu dihiasi oleh antrian mobil/truk yang cukup panjang. Memang cukup ironis bagi ibukota provinsi ini.

So far dengan kedinamisan kotanya, Palangkaraya termasuk satu kota yang ingin saya datangi lagi.

My note is : Tulisan saya ini sudah menjamur di draft blogpost saya dan ingatan saya akan Palangkarayapun sudah semakin menipis, jadi mohon maaf jika blm bisa memuaskan., hihi

Artikel lainnya :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s