Cerita Baduy Dalam – Lebak, Banten Indonesia

1150402_10200128852457975_478612157_n

Baduy, suku yang sudah lama saya ketahui melalui tayangan-tayangan televisi. Kunjungan saya ke Baduy ini bisa dikatakan sangat mendadak. Singkatnya saya diajak oleh sahabat saya untuk bergabung dengan tim Backpacker Indonesia dalam Trip ke Baduy Dalam.

Oke., ini pengalaman pertama bagi sang pecundang untuk mengikuti petualangan dengan Backpacker Indonesia (padahal sdh lama banget pengen join) maupun pengalaman pertama naik gunung. Jujur saya adalah tipe traveller yang tidak terlalu suka dengan alam pegunungan lebih ke arah alam pantai laut dan tempat yang kental akan budaya nya , mungkin karena saya dibesarkan di alam pantai dan laut. Ketika diajak untuk join saya antusias sekali karena rasa penasaran yang begitu besar akan budaya Baduy Dalam tanpa memikirkan medan yang akan saya lalui. Bukannya saya nggak mau capek atau lemah dll, tapi nggak suka aja -simply reason- haha. Oke masuk ke Cerita Baduy.

Berangkat dari Jakarta

Perjalanan dimulai dari Jakarta dapat dilalui dengan menggunakan Alat Transportasi arah Stasiun Rangkasbitung. Kala itu saya menggunakan KA Rangkasjaya AC dari Stasiun Tanah Abang seharga abis 15ribu perak. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan Elf yang ada di belakang stasiun Rangkas ke arah Ciboleger seharga 15 – 20rb. Perjalanan ini menghabiskan wakti 1,5 jam dengan jalan yang wuuooooo., kaya halilintarnya dufan -kata teman saya., hihi-. Di Ciboleger adalah titik terakhir kita menggunakan alat transportasi, setelahnya menuju Baduy Dalam ya mengandalkan kaki masing-masing., Hihi

Cibologer

Ciboleger merupakan “pintu masuk” untuk menuju suku Baduy. Meskipun menuju Ciboleger melalui jalan yang cukup merepotkan. Disana sudah tersedia minimarket Alf*mart. Jadi kita bisa mengisi logistik kita disitu. Saran apa aja yang bisa dilakukan di Ciboleger:

  1. Bagi yang muslim bisa sholat dulu. Disana ada masjid yang cukup nyaman untuk melakukan ibadah maupun istirahat dulu., hihi
  2. Mengisi perut. disana banyak pilihan makanan, tapi kata temen sih rasanya ya apa adanya.., kalau mau nyari yang enak ya di rangkas tadi.
  3. Keluarin isi perut alias kencing atau BAB. Bakalan ribet klo pas tracking ngrasain 2 hal itu., percaya deh., hihi
  4. Beli tongkat untuk bekal tracking. Ini barang sangat berguna untuk membantu tracking ke Baduy Dalam.
  5. Beli logistik di minimarket yang ada seperti obat pribadi, makanan, senter, jas hujan daaan MINUMAN buat bekal tracking.

Tracking

Pada saat itu tim kami mulai kegiatan tracking pada pukul 13.00 dengan cuaca yang sangat panas. Jadi perlu ditambahkan peralatan yang perlu dibawa adalah Topi dan sapu tangan sejenisnya untuk menghapus keringat ketika kalian tracking di musim kemarau. Perjalanan ini pun memerlukan guide yang bisa kalian nego di Ciboleger atau sudah janjian sebelumnya. Orang Baduy Dalam banyak yang sedang turun di Ciboleger juga bisa sebagai guide kita, mereka pun menawarkan jasa porter untuk bawain tas kita. Buat para cewek-cewek bahkan cowok yang nggak mau capek, bisa nih gunain jasa porter mereka, kalau beruntung harganya masih terjangkau kok., hihi

Medan tracking dari Ciboleger ke Cibeo (Baduy Dalam) ini cukup menguras fisik terutama ketika cuaca panas ataupun hujan, tetapi kita juga disajikan dengan pemandangan yang sangat indah selama perjalanan. Selama perjalanan, kita banyak melewati beberapa kampung Baduy Luar dengan keunikan budaya mereka, keren lah pokoknya.

Baduy Luar

Sebelum mengikuti trip ini, tentunya searching informasi mengenai Baduy telah dilakukan. Menurut informasi di internet sih Baduy itu terbagi menjadi 2 kelompok, Baduy Dalam dan Baduy Luar. Bedanya itu adalah tingkat kepatuhan akan adat istiadat Baduy. Orang Baduy Luar sudah mulai mengenal beberapa kemajuan kemodernitas dunia ini seperti radio bahkan handphone, sedangkan Baduy Dalam masih berpegang teguh akan adat istiadatnya. Selain itu wilayah Baduy Dalam juga tidak boleh dikunjungi oleh orang asing (bule, china, negro dll), sedangkan Baduy Luar menerima kunjungan dari orang asing.

Meskipun begitu, budaya Baduy Luar dan Baduy dalam tidak banyak berbeda. Bentuk atau arsitektur rumahnya pun mirip meskipun ada perbedaan dari komponen bangunannya yang tentunya Baduy Luar sedikit lebih modern dengan adanya bantuan dari paku salah satu contohnya., hihi. Sepanjang perjalanan melewati beberapa kampung Baduy Luar ini sering sekali menemukan para ibu sedang melakukan kegiatan tenun sembari mengasuh anaknya yang masih balita, sementara para pemuda atau bapak sibuk melakukan pekerjaan lainnya seperti mengolah kayu, bertani dll. Benar-benar pemandangan yang sangat langka ditemukan di Jakarta.

Baduy Dalam

Akhirnya melewati sebuah jembatan yang merupakan batas Baduy Luar dan Dalam, teriakan teman-teman pun muncul mengingatkan mematikan semua gadget yang dipegang. Handphone, Kamera dll OFF. Setelah memasuki perbatasan ini ada sedikit rasa lega karena perjalanan tentunya tidak akan lama lagi, tetapi rasa penasaran dan sedikit takut muncul karena ini adalah hal baru. Masuk ke wilayah yang mempunyai adat istiadat yang berbeda dengan keseharian kita. Tapi rasa takut itu bisa dihilangkan dengan tidak melanggar larangan-larangan yang sudah disampaikan sebelumnya.

Desa Cibeo Baduy Dalam, sebuah desa atau kampung lebih tepatnya yang langsung memperlihatkan kesederhanaan mereka mulai dari rumah-rumah mereka maupun masyarakatnya. Pemandangan bapak ibu, pemuda pemudi dan anak-anak yang menggunakan pakaian atasan putih bawahan hitam bergaris menggunakan ikat kepala, dan beberapa menggunakan baju hitamnya terlihat begitu “eksotis” budayanya di mata saya. Hal yang belum pernah terlihat oleh mata telanjang saya. Sederhana, begitu sederhana hidup mereka. Meskipun sederhana, kehidupan mereka begitu teratur dan jarang sekali melihat masyarakat itu mengeluh bahkan murung. Wajah mereka begitu ceria dan ramah menyapa kami.

Kami pun diberikan kesempatan untuk sejenak beristirahat di salah satu rumah warga yang komponen bangunanya sebagian besar berasal dari pohon bambu dan yang membuat kami terkagum-kagum adalah bangunannya tanpa paku., brrr. Alhamdulillah kami masih diberikan kesempatan melihat matahari sore di desa Cibeo Baduy Dalam, itu artinya kita bisa membersihkan badan alias mandi. Tapi ingat., No Sabun, Sampo dan sejenisnya, dan tentunya bukan di sebuah bilik kamar mandi melainkan SUNGAI, ya sungai lah tempat kita mandi, MCK dll.

Sore itu kami para lelaki berombongan menuju sebuah spot sungai yang cocok digunakan untuk mandi. Kami para lelaki tak lama berpikir langsung mandi di sungai tersebut., No Sabun No Sampo jadi Yes Batu dan Pasir., plus dinginnya air. Haha., Sinar matahari semakin lenyap pertanda waktu sholat maghrib telah tiba., sekalian lah kami mengambil air wudlu karena jarak sungai dengan rumah warga cukup panjang jika dilalui tanpa sinar apapun.

Sampai di rumah warga baduy dalam., sholat maghrib dan selanjutnya ngobrol dengan teman-teman yang notabennya baru kenal di perjalanan ini. Seru euy banyak orang baru dan tentunya banyak cerita inspiratif baru. Sembari kami ngobrol di tengah gelap gulita di depan rumah. Istri bapak yang kami pakai rumahnya memasak bahan-bahan yang telah kami bawa dari kota. Dapur dan ruang tidur atau ruang tamunya tak terpisah, jadi cahaya api cukup membantu penglihatan kami., hihi.

Yang membuat kami heran kala malam gelap gulita di Baduy Dalam yaitu para anak kecil Baduy Dalam dengan girangnya berlarian di halaman rumah mereka tanpa mengkhawatirkan jarak pandang mereka, sementara kami melihat rumah tetangga yang berjarak 2-3 meter pun tak terbayang sama sekali., haha. Perbincangan kami dilanjutkan dengan warga Baduy Dalam sekitar., mereka seru euy ceritanya. Bisa bikin kami tertawa terbahak-bahak.

Sepertinya waktu sudah menyuruh kami untuk tidur dan mempersiapkan perjalanan pulang besok pagi. Peralatan sleeping bag, selimut dll telah dipersiapkan karena udara disana sangat dingin.

Perjalanan Pulang

Kali ini rute perjalanan pulang kami berbeda dengan perjalanan berangkat. Perjalanan kali ini disengaja melalui satu spot menarik di Baduy yaitu Jembatan Akar. Menuju jembatan akar ini melewati jalan setapak menurun yang cukup rawan, jadi ketika melaluinya harus menambah kehati-hatian., hihi. Meskipun susah menuju jembatan akar, pemandangan dan momennya terbayar sekali ketika sampai di jembatan akar. Jembatan ini benar-benar keren ciptaan alam. Dan sangat cocok untuk menjadi tempat rehat ketika tracking. Setelah dari jembatan akar, kami pun melanjutkan perjalanan melalui Baduy Luar dan akhirnya kami keluar Baduy dan kembali ke Jakarta.

1236897_10200200785336252_562157842_n

jembatan akar
my note is : Benar-benar pengalaman kali ini begitu menyenangkan bisa melihat budaya suku Baduy Dalam dan Baduy Luar. Perjalanan kali ini mengajarkan bagaimana kesederhanaan itu sebaiknya dilestarikan dalam kehidupan sehari-hari.

Artikel lainnya :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s